Kotagede, bukti sejarah yang masih terjaga

Sejak 2016, saya dan mas memutuskan tinggal di kotagede, Yogyakarta. Meskipun lahir di Jogja tapi sejak sekolah dasar saya besar di Makassar. Tentu tiba di Jogja masih menjadi suasana baru walaupun jika liburan kami sekeluarga sering mudik ke Jogja.

Memilih tempat tinggal di Kotagede dengan pertimbangan dekat dengan rumah. Sederhananya seperti itu. Sampai kami mengontrak rumah dengan harga yang fantastis murah, tiga juta lima ratus pertahunnya. Rumah minimalis, ada halaman depannya. Bangunannya seperti bangunan jepang. Melebar dengan atap yang pendek. Jika di Makassar banyak rumah yang menggunakan seng , disini mayoritas menggunakan genteng. Susunan bangunnyanya juga unik. Jarak satu rumah dengan rumah lainnya hanya hitungan dua atau tiga meter. Masih menjaga bentuk tata perkampungan kuno. Seperti labirin. Akses ke rumah banyak lorong-lorong kecil yang hanya bisa dilewati satu motor saja dengan satu arah. Jadi jika ada dua motor yang ingin lewat berlawanan arah, maka harus ada yang mengalah(mundur). Dan di Jogja, tetangga banyak yang mengalah, kadang saya juga sungkan ikut mengalah tapi mereka tetap kekeh mempersilakan saya lewat duluan.

Awalnya saya berpikir jarak rumah sangat dekat dengan tetangga. Apakah sisi privasi akan terganggu nantinya. Saya batuk saja bisa kedengaran apalagi ketika saya teriak-teriak. Ternyata privasi saya sama sekali tidak terganggu. Sedekat apapun jarak rumah yang satu dengan yang lain, malah saya perhatikan banyak warga yang sungkan sekedar main ke rumah tetangga ngobrol misalnya. Pertemuan antar warga hanya saya jumpai saat ada pengajian, arisan, takziah  ataupun acara formal lainnya. Saya akui komitmen mereka untuk kompak dan rukun itu tercermin saat diadakannya acara acara formal tadi, banyak yang menghadiri.

dsc00074

Di Kotagede juga terkenal dengan masjid Mataram. masjid gede mataram yang bangunannya sangat kental dengan budaya. sebelum masuk ke wilayah masjid, ada gapura dan pagar tembok yang menyerupai hindu. konon, jaman dulu saat dibangunnya masjid ini, banyak warna hindu yang membantu pengerjaan masjid, ini tentunya agar terbentuk toleransi beragama, oleh sebab itu untuk menghargai penduduk hindu tersebut dibuatlah gapura dan pagar tembok khas hindu. kotagede

nuansa itu seperti layaknya di Bali. tidak berlebihan jika ada yang menyebut kotagede adalah balinya jogja. belum lagi suasana di sekitar masjid, adanya makam para raja-raja. di makam tersebut adalah makam panembahan senopati, Sultan Hadiwijaya, Ki Gede Pemanahan, dan anggota keluarganya. ada yang menarik di makam tersebut, seperti letak salah satu makam yang separuhnya masuk ke dalam cupung separuhnya keluar dari cupung. karena sesuai statusnya sebagai menantu panembahan senopati sekaligus musuhnya.

masih banyak sejarah yang bisa dikupas di Kotagede. jika ada waktu berlibur ke Jogja, jangan lupa main ke Kotagede ya.

#katahatiproduction

#katahatichallenge

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s