Prau di 2018

IMG_20180902_064943

“Ta, temenin pipis dong dek. Mba takut ke kamar mandi sendian.” begitulah kalimat yang sering De lontarkan pada adiknya beberapa tahun silam.

Namanya De, usia 26 tahun, karyawan swasta. Harihari ia lewati seperti wanita pada umumnya. Bekerja, belanja, beberes.
Jaman kuliah dulu De tidak tertarik dengan gunung. Sampai Af datang dan mengubah segalanya. Af, seorang mapala yang tenang. Tidak banyak bicara. Af merasa beruntung memiliki sahabat seperti De yang sering membuatnya tertawa meskipun kadang lawakannya tidak lucu. Karena ketidaklucuan itu kadang bisa jadi tambah lucu. Teori yang aneh tapi terbukti.

Af mengajak De mendaki gunung. Mulai dari ke Gunung Purba, sama sekali tidak diduga. De masih rapi dengan sepatu pantofelnya tetap bertekad kesana.
Gunung demi gunung didaki bersama. Telomoyo, Merbabu, Andong, Prau. Semakin sering mendaki, semakin berani. Tidak takut lagi ke kamar mandi walau sendiri. De merasa ada perubahan dalam fisik dan karakternya. Fisiknya lebih kuat karena dilatih dan dipacu. Dirinya lebih tangkas dan cekatan, lebih responsif dari sebelumnya. De merasa dirinya sekarang tidak mudah menyerah. Ia sadar betul hidup adalah berjuang seperti halnya meraih puncak harus mau bersusah payah terlebih dahulu. Ia bahkan tidak menyangka bisa melakukannya.

 

September 2018 pendakian De dan Af ke Gunung Prau di Wonosobo. Pendakian yang membuat De merasa bersyukur. Mulai dari manajemen waktu yang tepat, cuaca yang bagus, mendapati bintang-bintang, menemui sunrise dan juga melihat gunung-gunung lainnya yang berjejer dari atas puncak Prau.
Berbeda dengan pengalaman mendaki ke Gunung sebelumnya. Bertemu hal berbau mistis, barang logistik yang dicuri dan kabut sepanjang jalan. Prau benar-benar menyambut kami dengan pesonanya.
Sehabis subuh, mereka pandangi langit bersama. Sampai matahari muncul dari ufuknya. Jingga kemerah-merahan. Perlahan terlihat pucuk puncak beberapa gunung. Mulai dari Merapi, Merbabu dan gunung lainnya yang namanya tak ditahu. Pemandangan tepat di depan matanya sempurna sekali. Gumpalan lautan awal putih juga turut hadir.

 

De terdiam larut dalam simfoni yang dipersembahkan oleh alam. De senang tapi hatinya merasa janggal. Ambisinya kali ini merasa sangat kenyang. Ia berpikir hidup tidak semestinya soal mendaki saja. Bahkan ia sadar, obrolannya dengan Af di akhir pekan cuma soal gunung mana lagi yang akan ditemui. Dan itu berlangsung bertahun-tahun. Hanya ambisi untuk sampai ke puncak, lagi dan lagi. Walaupun niatnya untuk olahraga tapi hobi ini mentok begitu saja. Tidak ada follow up. Manfaatnya hanya untuk diri sendiri. Pencapaian-pencapaian yang kadang malah membuat sombong dan arogan.

De merasa pendakian kali ini sudah cukup, bukan menanggalkan tracking pole. bukan pula berhenti. Inilah titik balik De harus memikirkan yang lain. Melakukan perjalanan mewujudkan impian. Berbagi dengan sesama. Bermanfaat dengan sekitar dan lebih dekat dengan sang empunya Surga. Kerena hidup bukan soal mendaki melulu. Terlebih lagi De menobatkan dirinya sebagai petarung untuk mewujudkan mimpi-mimpi ibunya. Sejatinya perjuangan baru saja ia mulai.
#katahatiproduction
#katahatichallenge

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s